Dakwah Buat Remaja

Dakwah Kepada Remaja Supaya semakin mudah dalam menjalani hidup dan menuju ke jalan Islam... Semoga bermanfaat[]

Kendi dan Angan-Angan

Pada suatu masa, ada seorang lelaki yang memiliki kendi. di dalam kendinya disimpan banyak minyak samin dan madu. ia sebenarnya memiliki angan-angan yang tinggi. "Aku akan menjual madu dan minyak samin ini. bila aku mampu menjualnya 10 dirham, akan kubeli kambing sebanyak 5 ekor. lama-lama, kambing itu akan berkembang biak hingga puluhan bahkan ratusan. 4 ekor kambing dapat kutukar dengan seeokr sapi. aku tentu dapat membeli beberapa ekor sapi. lama-lama, sapi itu akan berkembang biak hingga puluhan bahkan ratusan. aku akan menjadi kaya raya dan bahagia selamanya."
"Bagaimana jika anakku menentang keinginanku? ya! aku akan memukulnya dengan tongkatku." pikir lelaki itu sambil memperagakan cara memukul dengan tongkatnya.
tanpa disangka, gerakannya mengenai kendinya hingga pecah. akibatnya, madu dan minyak samin di dalamnya tumpah. tiada yang tersisa dalam kendi. menjadi kaya-raya pun hanya menjadi angan-angan.
jauhilah sifat tamak terhadap harta dunia karena itu hanya membawa kerugian. sungguh, kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang menipu.

Renungan

Jika diajukan beberapa pertanyaan berikut ini, kira2 apa jawaban Anda???

1. Apa yang paling DEKAT dengan diri kita di dunia ?
2. Apa yang paling JAUH dari kita di dunia ?
3. Apa yang paling BESAR di dunia ?
4. Apa yang paling BERAT di dunia ?
5. Apa yang paling RINGAN di dunia ?
6. Apa yang paling TAJAM di dunia ?




Jawabannya:
------------------------------------------------------------
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al
Ghozali bertanya....

Pertama,
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab : "orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu BENAR.
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah MATI.
Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan
mati (Q.S. Ali Imran 185)

Kedua,
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya menjawab : "negara Cina, bulan, matahari dan
bintang-bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu
adalah BENAR.
Tapi yang paling benar adalah MASA LALU.
�Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu.
Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang
dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga,
"Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab : "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawaban itu BENAR kata Imam Ghozali.
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah NAFSU (Q.S.
Al-A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa
kita ke neraka.

Keempat,
"Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab : "besi dan gajah".
Semua jawaban adalah BENAR, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah
MEMEGANG AMANAH (Q.S. Al-Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika
Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga
banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang
amanahnya.

Kelima,
"Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Ada� yang menjawab : "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu BENAR kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini
adalah MENINGGALKAN SHOLAT.
Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermesyuarat, kita
meninggalkan sholat.

Dan pertanyaan keenam adalah,
"Apakah yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak : "pedang".
BENAR, kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah LIDAH MANUSIA.
Karena melalui lidah, ,manusia selalu menyakiti hati dan melukai perasaan
saudaranya sendiri.


Semoga bermanfaat!!

Nasihat Ibrahim bin Adham untuk ahli maksiat

mungkin kamu pernah didatengin sama temen yang doyan maksiat. tapi, tahu-tahu dia ngomong gini sama kamu: "Gue tau itu salah, tapi gimana cara gue berhenti?"
nah, kalo kamu punye temen lantas dia curhatnya begitu, jawaban Ibrahim bin Adham kayaknya top banget buat jadi inspirasi. urusan nasehatin orang, Ibrahim bin Adham ngerti banget soal psikologi manusia. contohnya kisah berikut ini.

"Yang terakhir, kalau malaikat zabaniyah mau menggiringmu ke neraka di hari kiamat, kamu jangan mau. tolak dia mati-matian, dan jauhi dia."
Lama Jahdah terdiam. wajahnya tertunduk, seolah ada burung bertengger di kepalanya. lalu, perlahan butir-butir bening mulai bergulir dari sudut matanya. Jahdar, coeok tulen yang doyan maksiat, menangis penuh penyesalan.
"Cukup....cukup wahai Aba Ishak! jangan kamu teruskan lagi! saya nggak sanggup mendengarnya. saya janji, mulai saat ini saya bakal istighfar dan taubat nasuha pada Allah."
Jahdar memang menepati janjinya. sejak pertemuan itu, ia benar-benar berubah.
Kita kayaknya juga perlu begitu kalo ada kawan-kawan yang agak nyasar jalan hidupnya. menghadapi yang kayak gitu, sikap berempati perlu, lho! karena Allah melarang kita menganggap diri kita suci. bahkan, ada ulama bilang, dosa itu malah bisa bikin manfaat kalo bikin pelakunya jadi kapok dan nggak mau balik lagi.
so, jangan pernah menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, ya.

cat: Entri ini belum selesai. masih dalam tahap perkembangan.


Kisah Ibrahim bin Adham dan Do'a gak maqbul

Masih suka bingung, kenapa sih, meski kita udah do'a, tapi rasanya kok, Allah belum kabulkan juga, ya? selain ada kemungkinan ditunda dan dialihkan(Q.S. Al-Mukmin (40):60). ada bagusnya kita dengerin tipsnya Ibrahim bin Adham tentang beberapa alasan kenapa do'a kita belum juga dikabulkan oleh Allah SWT.
Ceritanya gini. suatu hari, Ibrahim singgah di suatu kampung. orang-orang kampung yang udah pernah denger reputasinya, berduyun-duyun mendatangi Ibrahim. biasalah, namanya juga udah Seleb di dunia Sufi, jadi orang-orang kampung pada pengen dapet ilmu dari Ibrahim.
Cuma, nggak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Ibrahim nggak bisa menghindar. nah, pertanyaan yang paling banyak diajukan sama orang kampung itu adalah: "Wahai Ibrahim, rasanya kami udah capek berdo'a dan berdo'a, tapi kok, rasanya Allah belum kabulkan juga. bukankah Allah udah janji kalo kita berdo'a, pasti bakal dikabulkan? kenapa, ya?"
Ibrahim terdiam sejenak. lalu, keluarlah jawabannya yang termashyur.
"Kamu tahu kalau Allah itu Tuhanmu, tapi kamu nggak menta'ati-Nya. kamu baca Al-Qur'an, tapi kamu nggak mengamalkannya. Kamu tahu, setan musuh yang nyata bagimu, tapi kamu malah mengikuti jalannya. kamu tahu, kalau pada diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik, tapi kamu malah meninggalkan sunnahnya. kamu ingin masuk surga, tapi kamu nggak beramal untuk mendapatkannya. kamu takut sama api neraka, tapi kamu nggak menghalangi dirimu untuk menumpuk dosa. kamu meyakini kalau kematian pasti datang, tapi kamu nggak nyiapin diri untuk menghadapinya. kamu menyibukkan diri untuk mencari kesalahan orang lain, tapi nggak pernah melihat kesalahan sendiri. kamu makan dari apa yang Allah karuniakan kepadamu, tapi kamu nggak pernah bersyukur pada-Nya. kamu melihat pemakaman, tapi kamu nggak mengambil pelajaran darinya."
yang jelas, nasehat itu udah cukup bikin orang kampung itu menangis tersedu-sedu. umumnya, mereka langsung sadar dan malu. kok berani-beraninya ya, nyalahin Allah?
Nah, kayaknya sebagian kita kebanyakan gitu, ya? biasanya menuntut Allah SWT. nggak sedikit dari kita yang mencak-mencak dan ngomong gini, "Huh! saya kan udah do'a. katanya Allah janji mau ngabulin. nyatanya?"
Allah emang bener janji. tapi jangan lupa, tuh ayat ada syaratnya. di ayat seterusnya dibilang, "...dan hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku..."
jadi gimana? masih mau meradang karena do'a nggak dikabulin sama Allah?
Ngaca dulu deh!

Terakhir, masih ada satu lagi kisah Ibrahim bin Adham yang lebih seru! tunggu, ya....

Kisah Ibrahim bin Adham dan Buah Delima

Seperti yang saya janjikan, saya akan memberikan kisah lain dari Ibrahim bin Adham.
Dalam pengembaraannya, Ibrahim melakukan berbagai cara yang halal agar hidupnya berlanjut. Ia pernah jadi kuli pemecah biji gandum agar dapat memperoleh tepung untuk dibuat roti. begitu roti masak, rotinya nggak dimakan sendiri, tapi dibagikan pada fakir miskin.
Ia juga sibuk jadi pencari kayu bakar dan dijualnya ke pasar. Uang yang ia dapat, bukan cuma buat dirinya, tapi dibagi-bagikan pada fakir miskin. Alhasil, sifat-sifatnya yang penyantun dan jujur itu membuat nama Ibrahim bin Adham jadi buah bibir di kalangan masyarakat.
Uniknya, Ibrahim sendiri lebih suka menghindar. jadi, wartawan infotainment 'Baghdad Channel' misalnya, susah banget bikin wawancara sama dia. Becandanya begitu. tapi yang jelas, meski diomongin, banyak orang yang nggak tahu, kayak apa sih, Ibrahim bin Adham itu?
pada suatu hari, Ibrahim berniat ganti profesi. maka, ia pergi ke suatu tempat yang letaknya jauh dari kota, dan melamar menjadi penjaga kebun buah-buahan milik seorang kaya. berbulan-bulan lamanya Ibrahim kerja di sana, majikannya itu jarang datang ke kebun. wajar aja, namanya orang kaya, bisnisnya pasti banyak. tapi, suatu siang, sang majikan pergi ke kebunnya. ia lalu menyuruh Ibrahim mengambilkan beberapa buah delima yang masak dan manis.
Ibrahim buru-buru memetik delima-delima yang bergelantungan, dan segera menyerahkannya pada sang tuan. tanpa melihat lagi, sang tuan segera menggigit buah itu, dan...
"Phhuuuuiiiih! lho, kok masam sekali? hei, aku bilang ambil yang manis. ayo, ambil lagi buah delima yang lain!"
tanpa bicara, Ibrahim segera memetik kembali buah delima yang dimaksud, dan lagi-lagi sang tuan mendapatkan buah yang mentah dan masam.
dengan kesal ia berkata pada Ibrahim, "Hei, sudah berbulan-bulan kamu bekerja di kebun ini, tapi memilihkan delima yang masak dan manis saja kamu nggak becus. bagaimana sih kamu ini?"
"Oh, begini Tuan," jawab Ibrahim dengan tenang, "Tugas saya cuma menjaga kebun ini agar tidak dirusak oleh hewan atau supaya tidak diganggu oleh pencuri. terus terang saja, saya sama sekali tidak pernah makan buah-buahan itu. jadi, saya nggak tahu gimana rasanya buah delima asam maupun manis."
sang majikan terbengong-bengong mendengar jawaban aneh itu. selama ini, jangankan mencicipi, tukang-tukang kebun sebelumnya nggak jarang malah menjual buah-buahan itu tanpa sepengetahuannya. Dia lalu menatap tukang kebun itu dalam-dalam. sementara, yang ditatap berdiri tenang dengan cueknya. pasti bukan orang sembarangan nih, pikir sang pemilik kebun.
Aha! tiba-tiba sang pemilik kebun teringat sesuatu. sebagai tokoh masyarakat yang gaul, sudah lama ia mendengar gosip-gosip seputar sosok Ibrahim bin Adham! jangan-jangan...
"Dengan keteguhan dan kejujuran yang kamu miliki, hatiku berkata kamu pasti Ibrahim bin Adham! ya, kan? ya, kan?" serunya kegirangan.
Nah, sekarang giliran Ibrahim yang terkejut. aduh, ketahuan, deh! serba salah nih jadinya.
Tak lama sesudah peristiwa itu, Ibrahim bin Adham segera minta berhenti sebagai penjaga kebun. bukan karena minder, tapi karena ia merasa identitasnya udah ketahuan orang. padahal, ia adalah orang jujur yang sangat teguh memegang amanah. tapi, bener-bener karena Allah, bukan buat nyari pujian orang.
"Karena kamu udah tahu siapa aku," kata Ibrahim, "Maka aku berhenti." habis berkata itu, Ibrahim pun pergi berlalu.
bagaimana? masih kurang seru? masih ada kisah Ibrahim yang lain yang lebih seru! tunggu ya... akan kita bahas di entri yang lain...!

Kisah Ibrahim bin Adham

Kali ini kita berkenalan dengan seorang Aulia atau Orang Suci yang bernama Ibrahim bin Adham.
Sebelum terjun menjadi seorang sufi, dulunya ia adalah seorang pangeran dari Kerajaan Balkh, yang sekarang berada di wilayah negara Afghanistan. namanya juga pangeran, hidupnya pasti bergelimang kemewahan. udah gitu, lebih banyak santai dan hura-hura ketimbang ngurusin negara.
Enak ya? ternyata nggak juga! karena terlalu lama bermewah-mewahan, batin Ibrahim mulai gelisah. Ia ingin sekali mencari jalan untuk lebih dekat dengan Allah. tapi, bagaimana caranya? apa aja udah disediakan. mau apa aja tinggal dilayanin. bosen!
Waktu terus berlalu. dan sampailah Ibrahim pada jawal berburunya. sebagai pangeran, ia biasa berburu di padang rumput dan hutan-hutan , tentunya diiringi dengan seabreg punggawa, pengawal dan pelayan.
Pada suatu malam, ketika usai memperoleh hasil buruan yang besar, Ibrahim tertidur lelap di tendanya yang mewah. mendadak, ia mendengar suara seperti seseorang berjalan mondar-mandir di atas tendanya. spontan ia berteriak, "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di situ?"
Suara itu menjawab, "Aku sedang mencari untaku di sini!"
"Apa? Gila kamu! mana mungkin mencari unta di atas tenda seperti ini?'
"Lho, kamu juga," balas suara itu, "Mana mungkin kau akan menemukan Allah di atas kemewahan seperti ini?"
Suara itupun tba-tiba menghilang. Ibrahim terpana. kata-kata itu langsung nancep di hatinya, nyangkut dalem banget nembus hatinya!
Iya juga, kan? kalau cuma diam di atas kemewahan, nggak tahu bagaimana penderitaan di luar sana, bagaimana ia akan lebih mengenal dan merasakan nikmat-nikmat Allah?
Bener juga, ya? Kita bisa tahu nikmat kekayaan, karena tahu rasanya kemiskinan. tahu nikmatnya sehat, karena sudah pernah merasakan sakit. begitu seterusnya. itulah kira-kira yang berputar-putar di pikiran Ibrahim.
Setelah itu, Ibrahim langsung jadi Be-Te! spontan ia bangkit dan meninggalkan tenda mewahnya malam itu juga, dengan cara diam-diam. sejak saat itu, ia memustuskan untuk pergi mengembara di jalan Allah. ia tinggalkan hidupnya yang mewah dan pergi mengembara mencari kebenaran sejati. yang hebatnya, sebagai mantan orang kaya, Ibrahim enjoy aja menikmati jalan hidup sederhana.
Tapi kalo buat kamu-kamu, cara begini bukan buat mentah-mentah ditiru! bis-bisa, ayah-ibu kita kumat sakit jantungnya. masa', kabur dari rumah bilangnya mau ngikutin jejak Ibrahim bin Adham. Asal!
Yang penting, niat Ibrahim yang mesti kita tiru: bersungguh-sungguh mencari kebaikan di jalan Allah! Belajar dengan tekun dan bikin Orang Tua bahagia, itu juga jalan Allah, lho!
Oke, kita akan bahas kisah-kisah Ibrahim bin Adham di lain waktu. masih banyak, lho! tunggu, ya....

3 Hari Lagi Dunia Kiamat!!!!!!!!


Ketika Tuhan memanggil para presiden dari tiga negara, AS, Cina, dan Indonesia untuk dimarahi. Dari Amerika muncul Barack Obama. Dari Cina datang Presiden Ma Ying-Jeou. Dari Indonesia diutus Boediono.

Setelah habis-habisan mencela tindakan pemimpin dunia ini, Tuhan menyampaikan bahwa Ia sudah muak dan memutuskan dalam tiga hari dunia akan kiamat. Tiga pemimpin ini disuruh kembali ke negaranya untuk menyampaikan keputusan Tuhan kepada rakyat mereka masing-masing.

Ketiga pemimpin pulang ke negara masing-masing sambil putar otak, bagaimana menyampaikan kabar buruk ini kepada rakyatnya.

Di depan Kongres Amerika dan disiarkan langsung di TV, presiden Obama mencoba menjelaskan: “Congressmen, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar baik dulu. Tuhan itu benar-benar ada, seperti yang kita yakini. Kabar buruk : Tuhan akan memusnahkan dunia ini dalam tiga hari.”

Hasilnya payah, terjadi kerusuhan dan penjarahan di mana-mana.

Di depan Kongres Partai Komunis Cina, Ma Ying-Jeou memodifikasi taktik Bush : “Kamerad, ada kabar baik dan ada kabar buruk. Pertama kabar yang baik dulu. Ternyata Marx, Stalin, Ketua Mao dan para pendahulu kita salah, Tuhan itu benar-benar ada. Kabar buruk: Tiga hari lagi Tuhan akan mengkiamatkan dunia ini.”

Hasilnya lumayan, orang-orang Cina pada berlarian, heboh dan menangis ketakutan dan membanjiri tempat ibadah, hendak bertobat.

Yang paling sukses Boediono !

Di depan sidang paripurna DPR yang disiarkan langsung, ia tersenyum sumringah : “Saudara sebangsa dan setanah air, saya membawa dua kabar baik. Kabar baik pertama: “Sila pertama Pancasila kita sudah benar, Tuhan itu benar-benar ada.” Kabar baik kedua: “Dalam tiga hari semua masalah energi, pangan, kemiskinan, terorisme, dan penderitaan di Indonesia akan segera berakhir !”

Sukses besar, seluruh rakyat larut dalam pesta dangdutan dan pawai di mana-mana…….